Pengendalian adalah semua metode, prosedur, atau kebijakan yang memastikan adanya perlindungan dari aset organisasi, keandalan dan keakuratan catatannya dan kepatuhan operasional untuk standar manajemen.
Pengendalian dibagi menjadi beberapa bagian oleh beberapa lembaga, Menurut IAI dan COSO, pengendalian dibagi menjadi dua yaitu Pengendalian Umum (General Control) dan Pengendalian Aplikasi (Application Control)
Pengendalian Umum (General Control)
Pengendalian umum adalah kebijakan secara menyeluruh untuk semua bidang organisasi/perusahaan dan mencakup kebijakan praktek yang didirikan oleh manajemen untuk memberikan keyakinan yang memadai untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan dari pengendalian umum ialah menjamin integritas data, program yang ada dalam sistem komputer dan untuk menjamin pengembangan implementasi aplikasi yang tepat.
Menurut IAI, pengendalian umum meliputi unsur-unsur berikut ini :
1. Pengendalian Organisasi dan Manajemen
Meliputi pemisahan fungsi serta kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan fungsi pengendalian.
2. Pengendalian terhadap Pengembangan dan Pemeliharaan Sistem Aplikasi
Untuk memperoleh keyakinan bahwa sistem PDE telah dikembangkan dan dipelihara secara efisien dan ada otoritasnya.
3. Pengendalian terhadap operasi sistem, untuk hal-hal sebagai berikut :
a, Sistem yang digunakan hanya untuk hal-hal yang telah ada otorisasinya.
b. Akses ke operasi komputer hanya diijinkan kepada mereka yang telah memiliki otorisasi.
c. Program yang digunakan juga yang hanya ada otorisasinya.
d. Kesalahan pengolahan dapat dideteksi dan di koreksi.
4. Pengendalian terhadap perangkat lunak sistem
Untuk meyakinkan bahwa perangkat lunak sistem dimiliki dan dikembangankan secara efisisien, serta diotorisasikan.
5. Pengendalian terhadap entri data dan program
Struktur Otorisasi ditetapkan dengan jelas atas transaksi, serta akses ke data dan program dibatasi hanya kepada mereka yang mempunyai otorisasi.
6. Pengendalian terhadap keamanan PDE
Menjaga PDE lain yang berhubungan dengan PDE bersangkutan, misalnya digunakannya salinan cadangan di tempat yang terpisah, prosedur pemulihan ataupun fasilitas pengolahan di luar perusahaan dalam hal terjadi bencana.
Keenam kategori tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tujuh jenis pengendalian umum, yaitu :
a. Pengendalian organisasi dan manajemen
b. Pengendalian software dan hardware
c. Pengendalian akses
d. Pengendalian data dan prosedur
e. Pengendalian pengembangan sistem baru
f. Pengendalian pemeliharaan sistem dan program
g. Pengendalian dokumentasi
Pengendalian Aplikasi (Application Control)
Pengendalian aplikasi adalah pengendalian dalam hal pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dalam suatu proses pengolahan data sehingga akan berhubungan dengan keteliatan dan kelengkapan data yang diproses melalui aplikasi tertentu. (Mulyadi 2001, 183)
Tujuan dari pengendalian aplikasi ini adalah untuk memenuhi persyaratan pengendalian yang harus diterapkan pada aplikasi tertentu sehingga data hasil pemrosesan aplikasi tersebut mampu diyakini keandalannya.
Berikut adalah jenis-jenis pengendalian aplikasi :
1. Input Control
Pengendalian input didesain untuk menjamin agar transaksi valid, lengkap dan akurat,
Input Control dibagi menjadi :
a. Source document control
Menggunakan dokumen sumber yang berurutan serta secara periodik melakukan audit atas dokumen sumber.
b. Data coding control
mengecek integritas data yang digunakan dalam pemrosesan,
c. Validation control
Untuk mendeteksi kesalahan dalam data transaksi sebelum diproses.
d. Input error correction
Ketika error terdeteksi dalam batch, harus segera dikoreksi dan record di submit ulang untuk diproses ulang.
e. Generalized data input system
Teknik yang secara sentralisasi dilakukan untuk mengelola data yang diinput di seluruh sistem pemrosesan dalam organisasi.
2. Pengendalian Proses
Pengendalian ini berperan apakah proses telah dilakukan dilakukan secara benar, sesuai dengan intruksi, diproses hanya satu kali tanpa ada pemrosesan ganda dan diproses secara tepat. Pengendalian proses ini menurut Anies, S. M. Basalamah memeliki beberapa jenis pengendalian, sebagai berikut :
a. Pemliharaan ketepatan data, yang dapat dilakukan dengan cara berikut :
Batch Control total
Run to run Control total
Transcation log
Fallback procedures
Restart Procedure
Recovery Procedures
b. Pengujian terprogram atas batasan dan memadainya laporan, pengendalian yang terdapat pada program tersebut :
Zerobalancing Check
Croosfooting check
Over flow check
c. Pengendalian atas file, file-file yang harus dikendalikan dengan tujuan pencegahan dari pemakaiain orang lain yang tidak memiliki otorisasi.
3. Pengendalian Keluaran
Pengendalian keluaran adalah pengendalian yang meyakini bahwa hasil pemrosesan data telah sah, lengkap, cermat, dan di distribusikan kepada pihak-pihak yang berhak.
Pengendalian keluaran ini menurut Anies. S. M. Basamalah memilik beberapa jenis pengendalian, yaitu:
a. Rekonsiliasi pengeluaran dengan masukan dan pengolahan
b. Penelaahan dan pengujian hasil pengolahan
c. Pendistribusian keluaran
Perbedaan utama antara pengendalian umum dan pengendalian aplikasi adalah bahwa sifat pengendalian umum adalah prosedural, sedangkan pengendalian aplikasi bersifat lebih berorientasi pada data. Oleh sebab itu, bagi auditor mungkin saja menilai pengendalian umumnya secara terpisah dari penilaian terhadap pengendalian aplikasi.
Fraud Triangle Theory merupakan suatu gagasan mengenai
penyebab terjadinya kecurangan yang dikemukakan oleh Donald R. Cressey (1953).
Teoriini menjelaskan tiga factor yang melatarbelakangi terjadinya tindak kecurangan.
Ketiga faktor tersebut yaitu sebagai berikut:
a.Tekanan (pressure)
Adanya tekanan dapat
membuat seseorang melakukan kecurangan. Tekanan dapat berasal dari berbagai
macam aspek, seperti tuntutan ekonomi atau bahkan gaya hidup. Tekanan yang
paling sering menjadi penyebab terjadinya kecurangan ialah tekanan akan
tuntutan atau kebutuhan ekonomi. Kebutuhan ekonomi yang mendesak inilah yang
sering menyebabkan seseorang bertindak curang demi memenuhi kebutuhannya
tersebut.
b.Peluang (opportunity)
Di antara ketiga faktor
penyebab kecurangan menurut fraud triangle theory (pressure, opportunity,
rationalization), peluang merupakan faktor yang paling mendasari terjadinya
kecurangan. Peluang ini dapat muncul kapan saja, sehingga pengawasan dan
kontrol internal perusahaan sangat diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan
adanya peluang seseorang melakukan kecurangam. Seseorang yang tanpa tekanan
sekalipun dapat melakukan kecurangan dengan adanya peluang ini, meskipun pada
awalnya tidak ada niat untuk melakukannya.
c.Rasionalisasi
(rationalization)
Rasionalisasi merupakan
salah satu faktor di mana pelaku kecurangan mencari pembenaran atas
tindakannya. Pelaku fraud ini pada umumnya menganggap bahwa tindakan yang ia
lakukan merupakan tindakan yang benar dan memang haknya, sehingga apa yang ia
lakukan bukanlah suatu tindak kecurangam. Anggapan-anggapan yang menjadi alasan
inilah yang kerap kali sulit diidentifikasi.
Fraud diamond merupakan sebuah
pandangan baru tentang fenomena Fraud yang dikemukakan oleh Wolfe dan Hermanson
(2004). Fraud diamond merupakan suatu bentuk penyempurnaan dari teori Fraud
triangle oleh Cressey (1953). Fraud diamond menambahkan satu elemen kualitatif
yang diyakini memiliki pengaruh signifikan terhadap Fraud yakni Capability.
Elemen Fraud Diamond:
Secara keseluruhan Fraud
Diamond merupakan penyempurnaan dari Fraud Model yang dikemukakan Cressey. Adapun
elemen-elemen dari Fraud diamond theory antara lain :
1.Incentive/Pressure
2.Opportunity
3.Rationalizati on
4.Capability
Capability as the fourth element of
Fraud
Wolfe dan Hermannson berpendapat
bahwa ada pembaharuan Fraud triangle untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi
dan mencegah Fraud yaitu dengan cara
menambahkan elemen keempat yakni Capability.
Wolfe dan Hermanson (2004)
berpendapat bahwa :
Banyak Fraud yang umumnya bernominal
besar tidak mungkin terjadi apabila tidak ada orang tertentu dengan kapabilitas
khusus yang ada dalam perusahaan. Opportunity membuka peluang atau pintu masuk
bagi Fraud dan Pressure dan Rationalization yang mendorong seseorang untuk
melakukan Fraud. Namun menurut Wolfe dan Hermanson (2004), orang yang melakukan
Fraud tersebut harus memiliki kapabilitas untuk menyadari pintu yang terbuka
sebagai peluang emas dan untuk memanfaatkanya bukan hanya sekali namun
berkali-kali.
Wolfe dan Hermanson (2004) berpendapat bahwa :
Dalam mendesain suatu sistem deteksi,
sangat penting untuk mempertimbangkan personal yang ada di perusahaan yang
memiliki kapabilitas untuk melakukan Fraud atau menyebabkan penyelidikan oleh
internal auditor.Teori ini menjelaskan bahwa kunci dalam memitigasi Fraud
adalah dengan fokus pada situasi khusus yang terjadi selain Pressure dan
Rationalization serta kombinasi dari Opportunity dan Capability.
Sumber :
eprints.undip.ac.id/42792/1/SIHOMBING.pdf
y3. Fraud Pentagon Teory
Teori terbarukan yang mengupas lebih
mendalam mengenai faktor-faktor pemicu fraud adalah teori fraud pentagon
(Crowe’s fraud pentagon theory). Teori ini dikemukakan oleh Crowe Howarth pada
2011. Teori fraud pentagon merupakan perluasan dari teori fraud triangle yang
sebelumnya dikemukakan oleh Cressey, dalam teori ini menambahkan dua elemen
fraud lainnya yaitu kompetensi (competence) dan arogansi (arrogance).
Crowe’s Fraud Pentagon
1.Kompetensi
(competence)
Kompetensi (competence) yang dipaparkan
dalam teori fraud pentagon memiliki makna yang
serupa dengan kapabilitas/kemampuan (capability) yang
sebelumnya dijelaskan dalam teori fraud diamond oleh Wolfe dan Hermanson pada
2014. Kompetensi/kapabilitas merupakan kemampuan karyawan untuk mengabaikan
kontrol internal, mengembangkan strategi penyembunyian, dan mengontrol situasi
sosial untuk keuntungan pribadinya (Crowe, 2011).
2.Arogansi
(arrogance)
Menurut Crowe, arogansi adalah sikap
superioritas atas hak yang dimiliki dan merasa bahwa kontrol internal atau
kebijakan perusahaan tidak berlaku untuk dirinya
Sumber: eprints.undip.ac.id/49099/1/12_TESSA.pdf
4.Teori Gone
(Gone Theory)
Teori Gone di temukan oleh Jack Bologne yang memiliki makna,
yaitu:
G = Greedy
O = Opportunity
N = Needs
E = Expose
Greedy, terkait keserakahan
dan kerakusan para pelaku korupsi. Koruptor adalah orang yang tidak puas akan
keadaan dirinya.
Opportuniy, sistem
yang memberi peluang untuk melakukan korupsi.
Needs, sikap mental yang
tidak pernah merasa cukup, selalu sarat dengan kebutuhan yang tidak pernah
usai.
Exposes, hukuman
yang dijatuhkan kepada para pelaku korupsi yang tidak memberi efek jera pelaku
maupun orang lain.
Teori keagenan menjelaskan adanya hubungan kerjasama antara pihak pemegang
saham sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Hubungan agensi ada ketika
salah satu pihak (prinsipal) yang dalam hal ini adalah pemilik perusahaan atau
pemegang saham menyewa orang lain (agen) yaitu manajemen perusahaan untuk
melaksanakan suatu jasa dan para prinsipal mendelegasikan wewenang pada agennya
untuk membuat keputusan (dalam Anthony dan Govinderajan, 2005). Prinsipal
selalu menginginkan returntinggi atas investasi yang telah dikeluarkan untuk perusahaan, sedangkan agen
memiliki kepentingan tersendiri yaitu untuk mendapatkan kompensasi yang lebih
besar atas hasil kinerjanya. Hal ini menunjukan adanya benturan kepentingan
antara prinsipal dan agen yaitu pemilik modal dan para pengelola modal atau
manajemen perusahaan. Adanya benturan kepentingan antar agen dan prinsipal ini
sering disebut pula dengan conflict of interest.
Fraud Tree yang dibuat oleh ACFE
adalah suatu sistem klasifikasi mengenai kecurangan-kecurangan yang dilakukan
oleh pekerja di perusahaan. Fraud Tree meliputi tiga bagian utama yaitu
korupsi, penyimpangan terhadap aset, dan
kecurangan pada laporan keuangan.
1.Korupsi
Korupsi adalah kegiatan menyimpang
yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok dari tugasnya dan menguntungkan
suatu pihak tertentu yang melawan hukum. Pada gambar fraud tree, korupsi
terdiri dari:
a.Konflik
Kepentingan
Konflik kepentingan adalah suatu
keadaan ketika seseorang memiliki kepentingan pribadi yang bersinggungan dengan
kepentingan perusahaan dan nantinya merugikan perusahaan. Konflik kepentingan
terbagi menjadi dua yaitu skema pembelian dan skema penjualan. Skema pembelian
ialah skala yang melibatkan overbilling dari sebuah perusahaan untuk barang
atau jasa oleh vendor, dimana seseorang karyawan memiliki kepemilikan dan
kepentingan keuangan yang dirahasiakan. Skema penjualan ialah skema yang
melibatkan underselling barang perusahaan dengan karyawan untuk sebuah
perusahaan, dimana karyawan tersebut mempunyai kepentingan tersembunyi.
b.Penyuapan
Penyuapan adalah suatu tindakan
dengan memberikan hadiah, uang dan semacamnya untuk mempengaruhi pengambilan
keputusan seseorang/kelompok.
Penyuapan meliputi kickbacks invoice
yaitu pembayaran pada perusahaan fiktif dan bid rigging yaitu kerja sama antara
peserta tender pada perusahaan untuk memenangkan peserta tender tertentu.
c.Gratifikasi
ilegal/Persenan Ilegal
Pemberian hadiah yang merupakan
bentuk tidak langsung dari penyuapan tetapi biasanya tidak ada maksud untuk
mempengaruhi keputusan.
d.Pemerasan
Ekonomi
Pemerasan ekonomi biasanya dilakukan
karyawan yang menuntut pembayaran kepada vendor untuk mendukung vendor.
2.Penyalahgunaan Aset
Penyalahugunaan
terhadap aktiva tetap atau aset yang digunakan untuk kepentingan pribadi.
Penyalahgunaan
aset diklasifikasi menjadi 2 jenis, yaitu kas dan persediaan aset non-kas lain.
a.Kas
terdiri dari tiga bagian :
· - Kejahatan Kas ditangan dimana pelaku menyalahgunakan kas
ditangan di dalam suatu organisasi.
· - Kejahatan pada penerimaan kas
Kejahatan ini dikategorikan menjadi
dua yaitu skimming adalah pencurian kas yang belum di catat di sistem akuntansi
dan cash larceny adalah pencurian kas yang telah muncul pada pembukuan
perusahaan.
Skimming dibagi menjadi tiga.
Pertama, skimming sales merupakan penggelapan penjualan yang mudah karena tidak
meninggalkan catatan penjualan dan tidak menimbulkan kecurigaan. Skimming sales
unrecorded biasanya dilakukan oleh karyawan yang menjual barang dan jasa kepada
pelanggan dengan tidak mencatat penjualan tersebut. Sedangkan skimming sales
understated biasanya dilakukan dengan mencatat penjualan tetapi dengan nominal
yang lebih kecil daripada aslinya yang dilakukan oleh pelaku. Kedua, skimming
receivables atau penggelapan piutang. Apabila penggelapan dilakukan, kekosongan
pembayaran muncul didalam pembukuan sebagai akun tunggakan. Penggelapan piutang
dapat dilakukan dengan cara lapping yaitu mengkredit rekening satu pelanggan
dengan pembayaran yang diterima dari pelanggan lain. Dapat juga dilakukan
dengan cara force balancing yaitu apabila posting ke akun pelanggan tanpa
menyetorkan cek dapat menimbulkan ketidakseimbangan. Maka, rekening kas akan
berlebih sehingga jumlah yang digelapkan dipaksa untuk menyeimbangkan akun.
Cara yang terakhir adalah dengan unconcealed yaitu karyawan mencuri atau
mengubah pernyataan akun atau menghasilkan laporan palsu. Ketiga, refund and
other merupakan pengembalian dana dari pihak ketiga tidak diserahkan kepada
perusahaan.
· - Kecurangan dalam pembayaran kas
Kecurangan ini dilakukan oleh
karyawan dengan cara membuat anggaran untuk tujuan yang kurang baik. Kecurangan
ini dikategorikan menjadi 3, yaitu:
-
Billing schemes merupakan skema yang dilakukan oleh pelaku dengan cara
mengeluarkan pembayaran dengan mengirimkan faktur barang dan jasa fiktif.
Billing schemes dikategorikan menjadi 3, yaitu shell company merupakan badan
palsu yang didirikan oleh karyawan untuk tagihan barang dan jasa yang tidak
diterima. Selanjutnya ada non-accomplice vendor merupakan skema dimana pelaku
memanipulasi rekening vendor yang sah dan menyebabkan pembayaran faktur dua
kali lipat. Terakhir yaitu personal purchases, merupakan pembelian pribadi
dengan menggunakan dana perusahaan.
-Payroll
schemes adalah skema dimana para pelaku membuat dokumen palsu yang menyebabkan
perusahaan tersebut tidak menyadarinya membuat kecurangan pembayaran. Payroll
schemes meliputi tiga hal, yaitu ghost employee merupakan seseorang yang
sebenarnya tidak bekerja untuk perusahaan tersebut melalui pemalsuan atau
penipuan catatan gaji. Selanjutnya yaitu falsified wages merupakan pemalsuan
dana dari gaji dengan kelebihan pembayaran upah oleh karyawan. Yang terakhir
ialah commision schemese. Hal ini bisa dilakukan oleh karyawan dengan cara
mencurangi komisinya yang dapat menghasilkan pendapatannya, dengan cara
memalsukan jumlah penjuaran yang dilakukan dan meningkatkan lajunya komisi.
-Skema
Penggantian Biaya adalah sebuah skema dimana karyawan membuat klam penggantian
fiktif atau meningkatkan biaya bisnis. Skema Penggantian Biaya meliputi 4 hal
yaitu mischaraterized expense reimbursement merupakan skema yang dilakukan oleh
karyawan yang menggunakan uang untuk penggantian biaya pribadi (ex: biaya
penginapan) dengan mengklaim itu merupakan biaya bisnis tersebut. Selanjutnya
ada overstated expense adalah skema yang dilakukan oleh karyawan dengan cara
melebihkan biaya pengeluaran bisnis yang sebenarnya. Hal yang ketiga yaitu
fictitious expense yang merupakan skema yang dilakukan oleh karyawan dengan
melakukan penggantian biaya seluruhnya secara fiktif dan karyawan hanya
menciptakan beban dan meminta beban tersebut digani perusahaan. Yang terakhir
ialah multiple reimbursement yaitu pengajuan beberapa jenis dukungan oleh
karyawan untuk penggantian biaya yang sama.
-Check
tempering adalah sebuah skema dimana seseorang mencuri dana pekerja lain dengan
menghalangi atau mengubah cek atau pembayaran elektronik salah satu akun bank
di suatu organisasi. Check tampering meliputi empat hal. Pertama, forged maker
schemes merupakan skema yang melibatkan penempaan tanda tangan resmi di cek
perusahaan. Kedua, forged endorsement scheme merupakan skema yang terdiri dari
penempaan dukungan tanda tangan dari penerima yang dimaksud pada cek
perusahaan. Ketiga, altered payee merupakan skema yang melibatkan pengubahan
pembayaran dari cek ke pelaku atau kaki tangannya. Keempat, authorized maker
scheme terjadi apabila karyawan dengan otoritas tanda tangan membuat cek palsu
untuk kepentingan mereka sendiri.
-
register disbursement adalah sebuah skema dimana karyawan membuat catatan palsu
pada cash register untuk menyembunyikan penipuan uang tunai. Registes
disbursement terdiri dari 2 hal, yaitu false refund merupakan penipuan terkait
dengan pengembalian barang. Biasaanya pelaku melebihkan-lebihkan dana terkait
nilai pengembalian barang. Selanjutnya, false void ialah pelaku menyimpan
salinan tanda terima pelanggan pada saat penjualan dan menggunakannya untuk
membuat kekosongan fiktif, seperti pelanggan mengembalikan barang dagangan.
b.Persediaan
dan aset non kas lain, kecurangan disini diartikan dengan pelaku yang
menargetkan barang inventaris, peralatan, perlengkapan, aset selain kas untuk
dicuri dengan berbagai cara. Skema ini mencakup penyalahgunaan aset selain uang
tunai. Persediaan dan aset non kas, terdiri dari :
·Misuse/Penyalahgunaan merupakan aset yang disalahgunakan
tetapi tidak dicuri. Biasanya aset ini berupa peralatan, kendaraan, komputer
perusahaan, dll.
·Larceny/Pencurian merupakan pencuriaan persediaan aset
perusahaan. Skema ini menjelaskan dimana karyawan hanya mengambil persediaan
pada lokasi perusahaan, tanpa menyembunyikannya dalam bentuk buku ataupun
catatan. Pencurian ini terdiri dari 4 hal sebagai berikut:
-Rekuisisi
aset dan transfer merupakan permintaan resmi aset dan dokumen lainnya yang
memungkinkan aset non-tunai untuk dipindahkan dari satu lokasi di sebuah
perusahaan yang lain yang dapat digunakan untuk memfasilitasi pencurian
aset-aset tersebut.
-
penjualan palsu dan pengiriman biasanya terjadi pada karyawan yang korupsi yang
memanfaat orang lain untuk mencuri persediaan. Orang lain itu berpura-pura
untuk membeli barang dagangan, tetapi karyawan tersebut tidak menghubungi bagian
penjualan.
-pembelian
dan penerimaan merupakan skema pembelian yang diklasifikan dengan tagihan palsu
dan yang diklasifikasikan sebagia penyelewengan non-cash dengan menyembunyikan
penyusutan persediaan.
-skema
penyembunyian pencurian terjadi ketika karyawan mencuri properti dari
perusahaan tanpa menyembunyikannya ke dalam buku dan catatan.
3.Kecurangan Laporan
Keuangan merupakan skema dimana karyawan secara sengaja mengabaikan salah saji
atau kelalaian informasi material dalam laporan keuangan organisasi.
Kecurangan
laporang keuangan dibagi menjadi dua:
a. Net
worth / net income overstatements adalah jumlah modal sendiri yang dimilii
perusahaan yang mencakup modal, saham, cadangan, surplus dan lain-lain. Net
worth bisa diartikan sebagai selisih antara jumlah hutang perusahaan dikurangi
dengan total assets. Net worth meliputi :
-
Timming Difference
Merupakan suatu konsep akuntansi yang
terjadi karena masalah transisi. Perbedaan waktu adalah isilah yang sangat
digunakan dalam pelaporan atau perpajakan tujuan keuangan. Metode perhitungan
penyusutan yang berbeda di kedua akuntansi keuangan dan perpajakan. Sementara
perusahaan menggunakan metode garis lurus untuk depresiasi, dan menggunakan
metode penyusutan dipercepat. Hal ini akan menyebabkan perbedaan perbedaan
waktu dlam kewajiban pajak dari perusahaan meskipun penyusutan dihitung dengan
kedua metode.
-
Fictitious Revenues
Mengembang keuntungan perusahaan
dengan mencatat pendapatan palsu untuk barang atau jasa yang tidak pernah di
sampaikan. Skema ini dibedakan dari waktu skema perbedaan bahwa dengan
pendekata fiktif, pendapatan tidak diakui dalam setiap periode.
-
Concealed Liabilities and Expense
Yaitu beban dan kewajiban
tersembunyi. Kewajiban tersembunyi dapat mencakup jaminan melekat penjualan
tidak dilaporkan atau kelalaian kewajiban sederhana. Beban dapat disembunyikan
oleh kapitalisasi yang menyebar biaya keluar selama beberapa tahun dengan
mencatat aset dan depresiasi tahunan daripada benar mengakui seluruh biaya
dalam satu tahun.
-
Improper Asset Valuations
Merupakan suatu bentuk kecurangan
laporan keuangan dengan melakukan penilaian yang tidak wajar atau tidak sesuai
prinsip akuntansi berlaku umum atas aset perusahaan dengan tujuan untuk
meningkatkan pendapatan dan menurunkan biaya
-
Improprer Disclosures
Merupakan suatu bentuk kecurangan
perusahaan yang tidak melakukan pengungkapan atas laporan keuangan secara cukup
dengan maksud untuk menyembunyikan kecurangan – kecurangan yang terjadi di
perusahaan.
Waktu perbedaan adalah konsep
akuntansi yang terjadi karena masalah transisi. Perbedaan waktu adalah istilah
yang sangat digunakan dalam pelaporan atau perpajakan tujuan keuangan. Metode
perhitungan penyusutan yang berbeda di kedua akuntansi keuangan dan perpajakan.
Sementara perusahaan adalah dengan menggunakan metode garis lurus untuk
depresiasi, otoritas pajak akan menggunakan metode penyusutan dipercepat. Hal
ini akan menyebabkan perbedaan waktu dalam kewajiban pajak dari perusahaan
meskipun penyusutan dihitung dengan kedua metode adalah sama dan jangka waktu
untuk depresiasi juga sama.
penghasilan yang timbul dari
aktivitas perusahaan yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda seperti
penjualan, penjualan jasa (fees), bunga, dividen, royalti, dan sewa namun
jumlah total dari pendapatan berada pada nilai di bawah rata-rata atau batas
yang ditentukan.
Kewajiban adalah pengorbanan ekonomis
yang harus dilakukan oleh perusahaan pada masa yang akan datang, namun
perusahaan mengorbankan biaya yang lebih besar dari biaya atau target yang
telah ditentukan.
Beban adalah sejumlah pengorbanan
yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam rangka memperoleh laba, namun perusahaan
melakukan pengorbanan pada beban-beban yang ditargetkan lebih besar dari yang
telah ditargetkan.
Merupakan suatu bentuk kecurangan
laporan keuangan dengan melakukan penilaian yang tidak wajar atau tidak sesuai
prinsip akuntansi berlaku umum atas aset perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan
pendapatan dan menurunkan biaya
-
Improprer Disclosures
Merupakan suatu bentuk kecurangan
perusahaan yang tidak melakukan pengungkapan atas laporan keuangan secara cukup
dengan maksud untuk menyembunyikan kecurangan – kecurangan yang terjadi di perusahaan.
COSO(The Committee of
Sponsoring Organizations)
Definisi
internal control menurut COSO adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan
direksi manajen dan staff, untuk membuat reasonable assuranc mengenai :
-
efektifitas dan efisiensinoperasional
-
realibilitas pelaporan keuangan
-
kepatuhan atas hukum dan peraturan yang berlaku
Komponen
Struktur Pengendalian Intern
Komponen
pengendalian intern menurut COSO oleh Wing Wahyu Winarno dalam buku Sisitem
Informasi Akuntansi ada lima, yaitu :
1.Control Environment atau
Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian merupakan
sarana dan prasarana yang ada di dalam organisasi atau perusahaan untuk
menjalankan struktur pengendalian intern yang baik. Berapa komponen yang
mempengaruhi lingkungan pengendalian intern adalah :
-
komitmen manajemen terhadap integritas dan nilai – nilai etika.
-
filosofi yang dianut oleh manajemen dan gaya operasional yang dipakai oleh
manajemen
-
struktur organisasi
2.Risk Assesment atau
Pemahaman Risiko
Manajemen perusahaan harus dapat
mengidentifikasi berbagai risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Dengan memahami
risiko manajemen dapat mengambil tindakan pencegahan, sehingga perusahaan dapat
menghindari kerugian yang besar.
3.Control Activities atau
Kegiatan Pengendalian Internal
Kegiatan pengendalian intern terdiri
dari :
-
Pemberian Otoritasi atas Transaksi dan Kegiatan
Otorasi adalah pemberian sebagaian
kekuasaan manajemen kepada karyawan untuk melakukan kegiatan dan mengambilan
keputusan. Hal ini perlu dilakukan karena manajemen tidak akan mampu membuat
semua keputusan dan menjalankan semua kegiatan di dalam perusahaan.
-
Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab
Tidak ada satu karyawan atau satu
bagian pun yang dapat menyelesaikan suatu transaksi tanpa campur tangan pihak
lain. Wewenang dan tanggung jawab di bagi atas tiga fungsi, yaitu Fungsi
Penyimpanan, Fungsi Pencatatan, dan Fungsi Pemberian Otorisasi
-
Perancangan dan Penggunaan Dokumen dan Catatan yang Baik
Dokumen akan disimpan dalam waktu
yang lama. Oleh karenanya, bahan yang digunakan untuk membuat dokumen juga
harus merupakan bahan yang tahan lama dan berkualitas baik
-
Perlindungan yang Cukup terhadap Kekayaan dan Catatan Perusahaan
Perlindungan yang dapat dilakukan
oleh perusahaan, agar tidak terjadi pencurian dan penggunanaan tanpa otorisasi.
-
Pemeriksaan Independent terhadap Kinerja Perusahaan
Pemeriksaan kinerja ini dapat
dilakukan dengan melakukan rekonsiliasi antara dua catatan yang terpisah atau
berbeda mengenai suatu rekening, dan membandingkan antara jumlah unit
persediaan di gudang dengan jumlah menurut catatan persediaan, menyelenggarakan
double entry bookkeeping, yaitu metode pencatatan yang selalu melibatkan
setidak-tidaknya dua rekening untuk mencatat satu transaksi, menjumlah berbagai
hitungan dengan cara batch totals, yaitu penjumlahan dari atas ke bawah.
Beberapa keterbatasan dari pengendalian intern
sehingga pengendalian intern tidak dapat berfungsi antara lain :
-
Kesalahan
Muncul ketika karyawan melakukan
pertimbangan yang salah atau perhatiaannya selama bekerja terpisah
-
Kolusi
Terjadi ketika dua atau lebih
karyawan berkonspirasi untuk melakukan pencurian (korupsi) di tempat mereka
bekerja.
-
Penyimpangan Manajemen
Muncul karena manajaer suatu
organisasi yang memiliki lebih banyak otoritas dibandingkan karyawan biasa,
proses pengendalian efektif pada tingkat manajemen bawah dan tidak efektif pada
tingkat atas.
-
Manfaat dan Biaya
Konsep jaminan yang meyakinkan atau
masuk akal mengandung arti bahwa biaya pengendalian intern tidak melebihi
manfaat yang dihasilkam.
4.Information and
Communication atau Informasi dan Komunikasi
Perancang sistem informasi perusahaan
dan manajemen puncak harus mengetahui bagaimana transaksi diawali, bagaimana data
dicatat ke dalam formulir yang siap diinput ke sistem komputer, bagaimana file
data di baca di organisasi dan diperbarui isinya, bagaimana data diproses agar
menjadi informasi dan informasi di proses lagi menjadi informasi yang lebih
berguna bagi pembuat keputusan, dan bagaimana transaksi berhasil.
5.Monitoring atau Pemantauan
Merupakan kegiatan untuk mengikuti
jalannya sistemn informasi akuntansi, sehingga apabila ada sesuatu berjalan
tidak seperti yang diharapkan, dapat diambil tindakan segera. Berbagai bentuk
pemantauan di dalam perusahaan dapat dilaksanakan dengan proses antara lain,
supevisi yang efektif, akuntansi pertanggung jawaban, dan audit internal.
Zalora adalah salah satu situs pembelanjaan online yang berhubungan dengan fashion. Zalora sendiri termasuk salah satu jenis e-commerce yang ada di Indonesia. Situs ini memiliki sistem online yang berhubungan dengan Sistem Informasi Akuntansi, salah satunya karena didalam zalora terdapat sistem penjualan. Zalora menyediakan berbagai kebutuhan fashion yang menarik konsumen baik untuk laki-laki ataupun perempuan. Situs pembelanjaan ini sudah banyak dikenali oleh masyarakat di Indonesia melalui iklan-iklan yang tersebar di Internet dan juga melalui promo berupa diskon.
Tipe Sistem Zalora
Tipe sistem online bermacam-macam. Zalora sendiri menggunakan tipe sistem Bussiness to Consumer (B2C). Sistem B2C adalah transaksi yang menggunakan Internet yang memberikan pelayanan secara langsung kepada konsumen berupa barang atau jasa tanp adanya perantara. Mengapa zalora termasuk tipe sistem B2C? Karena di dalam situs ini pembeli bisa memilih barang yang diingkan secara langsung dengan sistem online yang ada tanpa adanya perantara. Seperti berikut ini:
Dari gambar tersebut dapat ditunjukkan bahwa konsumen dapat memilih barang sesuai dengan keinginannya, Setelah kita memilih barang yang kita inginkan, selanjutnya kita dapat memesannya langsung pada situs zalora tersebut dengan menentukan ukuran yang diinginkan lalu melakukan transaksi pembayaran ke zalora tanpa adanya perantara.
Model Bisnis Zalora
Model bisnis yang digunakan oleh Zalora adalah e-tailer. E-tailer merupakan sistem online yang proses jual belinya sudah ditentukan oleh pihak yang bersangkutan (zalora). Disini konsumen dapat membeli barangnya kapanpun tanpa harus pergi ke toko. Konsumen hanya perlu mengikuti prosedur yang sudah ditentukan dan dijelaskan oleh Zalora di dalam situs tersebut. Apabila konsumen tidak mengerti mengenai prosedur yang ditentukan, zalora menyediakan kolom help untuk membantu konsumen mengenai prosedur yang terdapat di zalora.
Jenis Pendapatan yang diterima Zalora
Pendapatan yang diterima oleh Zalora yaitu tentunya berasal dari Penjualannya/Sales. Selain berasal dari penjualan produknya sendiri, penghasilan zalora juga berasal dari afiliasi. Afiliasi dengan kata lain adalah program yang memberikan imbalan kepada kita apabila kita dapat mengajak seseorang untuk melakukan kegiatan yang menguntungkan bagi produk dari situs penyedia tersebut. Zalora sendiri menyediakn program afiliasi bagi yang menginginkan, Zalora memberikan komisi hingga 5-12%. Afiliasi yang dilakukan oleh zalora adalah pemasangan banner iklan zalora pada website seseorang yang sudah mendaftarkan diri menjalin afiliasi dengan zalora, yang nantinya seseorang itu akan mendapat komisi apabila ada orang lain yang mengklik banner iklan zalora di websitenya,
Bab ini terdiri
dari tiga bagian utama. Pertama memperkenalkan pendekatan REA dan komentar pada
masalah umum terkait dengan praktik akuntansi tradisional yang dapat di
selesaikan melalui pendekatan REA. Bagian ini menyajikan Model REA dan
menggambarkan struktur model REA . Dasar REA terdiri dari tiga jenis entitas
(sumber, peristiwa, dan agen) dan satu set asosiasi yang meghubungkan mereka. Fitur
utama dari REA adalah konsep dualisme ekonomi. Bagian kedua menyajikan proses
multi pandang pemodelan untuk menciptakan model rea. Langkah-langkahnya
adalah:1) mengidentifikasi entitas event yang akan dimodelkan (2)
mengidentifikasi entitas sumber daya diubah oleh peristiwa (3) mengidentifikasi
entitas agen berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan, dan (4) menentukan
asosiasi dan kardinalitas antara entitas .Bagian ketiga dan terakhir menyajikan
tugas pandang integrase. Langkah-langkah yang terlibat dalam pandangan
integrasi adalah: (1) mengkonsolidasikan model individu; (2) mendefinisikan
kunci primer, kunci asing, dan atribut; dan (3) membangun basis data fisik dan
menghasilkan pandangan pengguna.
Pendekatan
Pusat REA
Profesi
akuntansi telah lama dikritik karena terlalu menekankan kepada peran informasi
akuntansi. Banyak peneliti saat ini mendorong profesi untuk menggeser penekanan
dari debet, kredit, akuntansi double entry, dan GAAP dan bergerak ke arah
menyediakan informasi berguna untuk pengambilan keputusan dan membantu
organisasi mengidentifikasi dan manajer bisnis resiko pengendalian . Modernisasi
membutuhkan informasi keuangan dan non keuangan dalam format dan pada tingkat
agregasi bahwa sistem akuntansi GAAP berdasarkan tradisional umumnya gagal. Kekhawatiran
tersebut telah menyebabkan sejumlah peneliti database untuk mengembangkan model
semantik atau kerangka kerja untuk merancang sistem informasi akuntansi yang
mendukung beberapa tampilan pengguna. Sebuah model semantik menangkap makna
operasional data pengguna dan memberikan deskripsi singkat itu. Salah satu
contohnya, penting untuk akuntansi, adalah model REA. Pada tahun 1982, REA
awalnya diusulkan sebagai kerangka teoritis untuk akuntansi. Sejak saat itu,
REA mendapat perhatian yang cukup besar sebagai alternatif praktis untuk sistem
akuntansi tradisional
Model
REA
adalah kerangka
akuntansi untuk pemodelan sumber daya organisasi yang kritis, peristiwa, dan
agen dan hubungan di antara mereka. Tidak seperti beberapa sistem akuntansi
tradisional, sistem REA mengizinkan kedua akuntansi dan data non akuntansi
untuk diidentifikasi, ditangkap, dan disimpan dalam database terpusat. Model
REA dapat diimplementasikan baik dalam arsitektur database relasional atau
berorientasi objek.
Elemen
dari Model REA
1.Sumber ,
2.peristiwa,
3.agents,
4.dualitas
Perbedaan
Antara Er dan Rea Diagram
ER dan REA
diagram berbeda visual secara signifikan. Entitas dalam diagram ER adalah dari
satu kelas, dan kedekatan mereka dengan entitas lain ditentukan oleh
kardinalitas mereka dan dengan apa yang visual menyenangkan untuk menjaga
diagram dibaca. Entitas dalam diagram REA, namun, dibagi menjadi tiga kelas
(sumber, peristiwa, dan agen) dan disusun dalam konstelasi oleh kelas pada
diagram. Perbedaan kedua antara ER dan diagram REA melibatkan urutan peristiwa.
Perbedaan ketiga antara ER dan diagram REA berkaitan dengan konvensi penamaan
untuk entitas
Menciptakan
Rea Diagram
Bagian ini
menjelaskan proses pemodelan pandangan seperti yang diterapkan untuk
menciptakan diagram REA. Proses ini melibatkan langkah-langkah berikut:
Langkah pertama : Identifikasi Entitas
Kegiatan
Langkah pertama
dalam mengembangkan model REA adalah untuk mengidentifikasi entitas kegiatan
dalam fungsi yang dimodelkan. Entitas ini meliputi memverifikasi Ketersediaan,
mengambil pesanan, pengiriman Produk, Menerima Cash , mengecek entitas yang
tidak valid.
Langkah kedua : Mengidentifikasi sumber
entitas
Langkah selanjutnya dari membuat diagram
REA adalah untuk mengidentifikasikan sumber daya yang dipengaruhi oleh kejadian
yang dipilih untuk dijadikan model. Setiap kejadian ekonomi dalam model REA
setidaknya harus terkait dengan satu sumber daya entitas yang nilai ekonominya
dapat berkurang maupun bertambah. Seperti, Jasa karyawan (sumber daya) dapat
meningkat karena karyawan memberikan jasanya kepada organisasi dan secara bersamaan
dapat menurun ketika jasa tersebut diterapkan dalam kinerja tugasnya. Entitas
ini akan memberikan data penting dan harus dimasukkan dalam model REA. Karena
kita bisa menganggap bahwa ini bukan Apex Supply, maka jasa karyawan tidak
dimodelkan. Dalam siklus pendapatan Apex, kejadian ekonomi hanya mengubah dua
sumber daya. Pengiriman barang mengurangi inventaris sumber daya dan penerimaan
kas menambah sumber daya.
Langkah ketiga : Mengidentifikasi entitas agen
Setiap entitas pada kejadian ekonomi di dalam
REA diagram berkaitan dengan setidaknya dua entitas agen. Satu agen internal
dan lainnya agen eksternal. Agen eksternal yang terkait dengan semua empat
kejadian pada Apex ialah pelanggan. Selain itu, ada juga agen internal yang
terkait dengan semua empat kejadian yaitu karyawan bagian layanan pelanggan,
karyawan bagian penjualan, karyawan bagian pengiriman barang dan karyawan
bagian penerimaan kas. Setiap agen internal adalah objek dari jenis entitas
karyawan dan diidentifikasikan sebagai entitas terpisah.
Langkah keempat : Menentukan asosiasi
kardinalitas antara entitas
Asosiasi adalah sifat dasar dari hubungan
antara dua entitas seperti yang ditunjukkan oleh garis yang diberi label yang
menghubungkan antar entitas tersebut. Kardinalitas (derajat asosiasi antara
entitas) menggambarkan banyaknya kejadian yang mungkin terjadi dalam satu
kejadian tunggal dalam entitas yang berhubungan tersebut. Empat bentuk dasar
kardinalitas yang memungkinkan; nol atau satu (0,1), satu dan hanya satu (1,1),
nol atau many (0,M), dan satu atau many (1,M).
• Kardinalitas
antara verifikasi ketersediaan dan pengambilan pesanan entitas.
kardinalitas pada pengambilan pesanan
adalah 0,1 dan verifikasi ketersediaan adalah 1,1.
• Kardinalitas
antara pengambilan pesanan dan pengiriman produk entitas.
Kardinalitas 0,1 pada pengiriman produk
dari hubungan ini mencerminkan adanya selisih waktu antara pesanan yang diambil
dan pengirimannya.
• Kardinaitas
antara pengiriman produk dan penerimaan kas entitas.
Perusahaan apex adalah grosir yang melayani
para pelanggan bisnis, kita menganggap bahwa piutang dibayarkan secara penuh
(bukan pembayaran secara parsial) dan bahwa pelanggan apex bisa membayar untuk
banyak pengiriman dengan satu kali penerimaan kas saja.
• Kardinalitas
antara kas dan penerimaa kas entitas.
Kardinalitas yang ditunjukkan dalam
hubungan ini adalah kas yang diterima dari para pelanggan didepositokan menjadi
satu akun.
• Asosiasi
many-to-many
Tiga contoh Asosiasi M,M yaitu yang pertama
antara entitas verifikasi ketersediaan dan inventaris/persediaan. Kardinalitas
yang kedua antara pengambilan pesanan dan persediaan. Kardinalitas yang ketiga
antara pengiriman produk dan persediaan. Hasil dari data yang berulang perlu
dinormalkan dengan membuat tiga tabel penghubung yang berisi kunci primer dari
tabel-tabel yang terasosiasi. Database tidak akan berfungsi tanpa adanya tiga
tabel penghubung tersebut. Tetapi untuk proses penggambaran diagram REA,
tabel-tabel penghubung hanya perlu ditunjukkan dalam asosiasi M,M.
LANGKAH 1 MENGKONSIDASIKAN MODEL INDIVIDU
Model konsidasi mencakup pendapatan model untuk
pembelian/pengeluaran kas dan gaji.
PEMBELIAN DAN PROSEDUR PENCAIRAN CASH
Entitas Order Produk, adalah peristiwa dukungan yang tidak langsung
meningkatkan Inventaris (sumber daya) kesatuan. Link dari entitas menunjukakan
bahwa catatan akan di sesuaikan untuk menunjukkan bahwa item tersebut berada
pada urutan. 1:M asosiasi antara Pemasok dan Order Produk menunjukkan bahwa
setiap pesanan selama periode tersebut. Entitas kegiatan menerima produk, yang
merupakan ajang ekonomi yang menyebabkan perubahan dalam sumber daya ekonomi
ini.
Di dalam
peristiwa ekonomi bahwa yang merupakan memberi setengah dari pertukaran ekonomi
yang disebabkan sumber daya kas menjadi menurun. Di 1:M asosiasi dengan seluruh
pemasok berarti bahwa setiap pembayaran terbuat hanya satu pemasok, tetapi
setiap pemasok mungkin menerima nol atau banyak pencairan selama periode. Di
1:M asosiasi antara mengeluarkan kas dan menerima produk menyiratkan bahwa
setiap penerimaan produk yang dibayar sepenuhnya ( tidak sebagian kelipatan
pembayaran), tetapi banyak penerimaan dapat dikombinasikan dan dibayar dengan
pembayaran sendiri untuk mengurangi pemeriksaan tulisan.
Melihat bahwa
M:M ada asosiasi antara produk order dan inventaris entitas dan antara menerima
produk.Produk pesanan ditepatkan dengan pemasok dan penerima dari mereka
mungkin berisi satu atau banyak item. Sebaliknya dari sisi sebrang, asosiasi
ini menadakan bahwa setiap barang persedian mungkin telah dapat dipesan dan menerima
nol atau banyak waktu di periode. Tabel untuk menghubungkan kesatuan tidak
dapat menjadi masukan di dalam diagram REA. Bahwa di dalam agen diwakilkan di
diagram REA sebagai pemisah entitas. Direalita, mereka agent adalah contoh dari
karyawan kesatuan dan akan diperkerjakan menjadi daftar satu karyawan di final
database.
Prosedur
Pembayaran Gaji
Terdiri dari hanya dua model peristiwa
ekonomi: Mendapatkan Waktu dan Kas Keluar. Ini melibatkan karyawan (agent
dalam) menghentikan waktunya, yang mana merubah dari ekonomi. Supervisor (agent
luar) mengasumsikan kontrol dari sumber daya. Sumber daya jasa karyawan dibahas
sebagai sumber daya mungkin untuk dimodelkan dalam pasokan database tertinggi.
Layanan karyawan secara langsung dilacak untuk produk yang dihasilkan atau
diberikan layanan untuk klien (yaitu, konsultasi, layanan hukum, atau akuntan
publik), itu masuk akal untuk model sumber daya ini. Untuk menjaga konsisten,
bahwa setiap kegiatan dikaitkan dengan sumber daya, namun jasa karyawan
termasuk sumber daya bayangan (garis putus-putus) saja, dan tidak dimodelkan di
final diagram REA perusahaan-lebar.
Petugas gaji berpatisipasi dalam kegiatan
ini, yang mengurangi sumber daya kas. Hubungan antara meluncurkan kas dan
mendapatkan waktu mencerminkan peristiwa perbedaan waktu antara karyawan
memberikan waktu mereka dan menerima pembayaran, karena mereka biasanya tidak
di bayar setiap hari. Dengan diagram REA individu di ciptakan dan menjelaskan,
siap untuk mengkonsolidasikan mereka ke dalam perusahaan. Dengan siklus
pengeluaran membuat untuk efek bayangan cermin, sumber daya umum inventaris dan
kas yang berpusat. Untuk menyederhanakan, kegiatan yang berlebihan, agen, dan
entitas sumber daya telah runtuh menjadi satu kesatuan. Kas dan Persediaan
entitas hanya ada sekali di diagram konsolidasi. Dalam mempertahankan, peran
yang dimainkan oleh agen-agen internal yang digambarkan sebagai individu bukan
sebagai karyawan untuk menghindari melintasi garis hubungan antara entitas,
Pemasok dan pelanggan agen yang muncul lebih dari sekali dalam diagram.
LANGKAH
2. MENETAPKAN KUNCI PRIMER, KUNCI ASING DAN ATRIBUT
Sebuah tabel terpisah akan dibangun untuk
setiap entitas yang valid dalam diagram REA. Membutuhkan 18 table yang
dijelaskan sebagai berikut:
• Sepuluh
agen internal yang diwakili akan dimasukan ke dalam tabel karyawan tunggal.
• Dua
agen eksternal (customer dan supplier) masing-masing akan membutuhkan tabel
terpisah.
• Dua
sumber inventarisasi dan cash masing-masing akan menjadi tabel.
• Delapan
kegiatan akan memerlukan tabel masing-masing.
• Lima
hubungan M:M diwakili diagram masing-masing akan membutuhkan menghubungkan
tabel.
ATURAN DASAR KUNCI DAN ATRIBUT
Penentuan kunci primer dan atribut berasal
dari pemahaman tentang tujuan setiap tabel.
Perencang database harus memilih kunci
utama yang logis dan mendefinisikan atribut dalam tabel. Jika data yang disimpan
dalam sebuah tabel tidak digunakan dalam
dokumen, laporan, ataupun perhitungan yang dilaporkan dalam beberapa cara, maka
tidak melayani tujuan dan tidak harus menjadi bagian dari database.
KUNCI DALAM 1:1ASOSIASI
Kunci utama dari tabel dengan 1,1 kardinalitas
harus tertanam sebagai kunci asing dalam tabel dengan dengan 0,1 kardinalitas.
Membalikan aturan ini membuat struktur tabel dimana 1,1 kardinalitas tabel
berisi contoh kunci asing dengan nilai kosong. Dengan mengikutu aturan, semua
nilai-nilai kunci asing di tabel 0,1 kardinalitas sisi asosiasi akan tidak
kosong.
KUNCI DALAM 1:M ASOSIASI
Langkah
3. Membangun Database Fisik dan Menghasilkan Tampilan Pengguna
Perancang
database siap untuk membuat tabel resional fisik dengan menggunakan software.
Setelah tabel dibuat beberapa bagian tabel harus diisi dengan data. Sumber daya
dan meja agen tabel kegiatan harus menunggu transaksi bisnis terjadi sebelum
data dapat dimasukan. Database yang dihasilkan harus mendukung kebutuhan
informasi dari semua pengguna. SQL digunakan untuk menghasilkan laporan, layar
komputer, dan dokumen untuk pengguna.
MEMPRODUKSI LAPORAN KEUANGAN DAN LAPORAN
AKUNTANSI LAINNYA
Dalam sistem
tradisional, laporan keuangan biasanya di buat dari akun buku besar,
nilai-nilai yang berasal dari posting voucher journal termasuk jurnal, buku
besar dan akuntansi double entry yang masuk dalam model REA. Sebaliknya,
mekanisme akuntansi tradisional ini di reproduksi dari tabel kegiatan. Angka
akuntansi diekstrasi dengan caranya dari tabel REA dapat digunakan untuk
menyiapkan laporan laba rugi, neraca, bahkan entri jurnal sebagai menggambarkan
dengan laporan voucher jurnal.
MEMPRODUKSI LAPORAN MANAGEMENT DARI TABEL
REA
Tujuan utama dari REA adalah untuk membuat
database yang mampu mendukung beberapa tampilan pengguna. Bagian ini
menggambarkan contoh non-accounting
laporan pengguna yang pasokan apex bisa menghasilkan dari database mereka.
Laporan berisi tentang antara lain, laporan ini mengidentifikasi barang yang
akan dipesan dan pemasok masing-masing, laporan aktivitas penjualan yang
diselenggarakan oleh pelanggan dan produk, yang akan digunakan oleh manajer
penjualan, laporan penyelidikan pelanggan yang bertujuan untuk melacak
permintaan pelanggan terhadap penjualan aktual. Laporan ini menunjukan berapa
banyak waktu yang dihabiskan pada setiap pertanyaan pelanggan dan apakah itu
menyebabkan penjualan.
REA DAN ANALISIS RANTAI NILAI
Analisis Rantai Nilai membedakan antara
kegiatan utama (menciptakan nilai) dan mendukung kegiatan (membantu melakukan
kegiatan utama). REA menyediakan model untuk mengidentifikasi dan membedakan
antara kegiatan tersebut. Dengan
menggunakan REA dapat melakukan operasi yang lebih efisien, membantu manager
mengidentifikasi kegiatan non-nilai tambah yang bisa dihilangkan. Peningkatan
produktifitas melalui penghapusan kegiatan non-nilai tambah menghasilkan
kelebihan kapasitas. REA juga digunakan untuk menyimpan data keuangan dan
non-keuangan dalam database pusat yang sama mengurangi beberapa pengumpulan
data, penyimpanan data, dan pemeliharaan. Data bisnis financial dan
non-finansial rinci mendukung jangkauan yang lebih luas dari keputusan
management. Mendukung beberapa perspektif yang berbeda pada masalah.
Menyediakan manajer dengan informasi yang lebih relevan, tepat waktu dan akurat
mengarah ke layanan pelanggan yang lebih baik, produk-produk berkualitas tinggi
dan proses produksi yang fleksibel.