Siklus akuntansi manual merupakan suatu pencatatan informasi yang menggunakan sistem manual yang mengandalkan tenaga manusia tanpa adanya teknologi komputer. Berikut adalah gambaran mengenai siklus akuntansi manual :
Penjelasan dari gambar :
1, Pengumpulan bukti transaksi
Awal dai siklus ini ialah proses pengumpulan bukti transaksi. Data tersebut bisa merupakan data keuangan maupun non-keuangan. Setelah bukti transaksi dikumpulkan, maka selanjutnya ialah dianalisis apakah transaksi tersebut sudah sah untuk diakui.
2. Jurnal transaksi
Tahap selanjutnya ialah jurnal transaksi. Pada tahap ini, transaksi yang ada dimasukkan ke dalam buku catatan transaksi. Transaksi tersebut biasanya dibagi menurut sifatnya, seperti pembelian, penjualan, biaya operasional, dsb. Jurnal dibagi menjadi dua, yaitu jurnal umum dan jurnal khusus.
3. Posting ke buku besar
Proses pemindahan catatan transaksi dari jurnal masing-masing yang bersangkutan. Pada tahap ini, transaksi dikelompokkan menurut nama akunnya.
Buku besar pembantu, catatan dalam buku besar pembantu merupakan rincian dari buku besar umum, yaitu bukti-bukti transaksi yang mengakibatkan perubahan baik itu hutang maupun piutang. Biasanya buku besar pembantu dicatat secara individual.
4. Neraca saldo
Neraca ini biasanya digunakan untuk mengetahui apakah saldo debit dan kredit sudah balance dan menjadi dasar pembuatan laporan keuangan.
5. Jurnal Penyesuaian
Jurnal yang dibuat untuk menyesuaikan saldo-saldo perkiraan akun agar menunjukkan keadaan yang sebenarnya.
6. Neraca Lajur
Neraca lajur sebenarnya digunakan untuk memudahkan dalam pembuatan laporan keuangan.
7. Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan proses utama dari akuntansi. Laporan keuangan terdiri dari laporan laba rugi, laporan posisi keuangan, laporan perubahan modal, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Salah satu contoh dari laporan keuangan :
8. Jurnal Penutup
Jurnal yang dibuat pada akhir periode untuk menutup rekening nominal/sementara.
9. Jurnal Pembalik
Jurnal pembalik digunakan untuk membalik jurnal penyesuaian yang menyebabkan akun neraca,
10. Neraca Saldo Awal Periode
Tahap selanjutnya adalah membuat neraca saldo awal periode yang dapat disusun dari tahap-tahap sebelumnya.
SIKLUS AKUNTANSI KOMPUTERISASI
Siklus akuntansi komputerisasi di era globalisasi ini sudah banyak digunakan karena pertumbuhan teknologi yang cepat. Seperti namanya, siklus akuntansi ini memang berbasis komputer. Secara garis besar, siklus akuntansi komputerisasi ini lebih memiliki keunggulan dibandingkan sistem manual dalam hal kecepatan, akurasi dan ketepatan pelaporan hasil.
Dari gambar tersebut dapat dijelaskan bahwa dari kegiatan operasional perusahaan akan menimbulkan data-data yang berbentuk transaksi yang nantinya data-data ini akan diinput ke dalam komputer. Selanjutnya dari sistem komputer tersebut akan melakukan prosedur penyimpanan, posting dan penghitungan yang sudah terprogram di dalam komputer tersebut. Dari pengolahan data-data ini akan menghasilkan data yang dapat digunakan untuk menyusun laporan-laporan keuangan yang digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan.
sumber : google images
Financial Statement
Financial statement atau yang biasa disebut laporan keuangan merupakan catatan keuangan suatu perusahaan pada periode tertentu yang dalam pembuatannya sudah mempunyai standar tertentu, yaitu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Dimana standar tersebut bertujuan agar laporan keuangan yang dimiliki pada setiap perusahaan seragam.
Financial statement terdiri dari beberapa hal :
1. Neraca/Laporan Posisi Keuangan
Neraca adalah bagian dari laporan keuangan yang dihasilkan dalam suatu periode tertentu yang berisi asset, liabilitas, dan equitas yang dihubungkan dengan persamaan akuntansi asset = liabilitas + equitas.
2. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi ialah bagian dari laporan keuangan yang pada suatu periode tertentu mengenai pendapatan dan beban pada suatu perusahaan yang menjelaskan suatu laba/rugi bagi perusahaannya.
3. Laporan Perubahan Modal
Laporan perubahan modal merupakan bagian dari laporan keuangan yang menyajikan informasi mengenai perubahan modal perusahaan akibat operasi perusahaan dalam suatu periode tertentu.
4. Laporan Arus kas
Laporan arus kas ialah bagian dari laporan keuangan pada suatu periode tertentu yang menunjukkan aliran masuk dan keluar kas suatu perusahaan.
5. Catatan Atas Laporan Keuangan
catatan atas laporan keuangan adalah catatan tambahan dan informasi yang ditambahkan ke akhir laporan keuangan.
Financial Reporting
Lain halnya dengan financial statement yang memiliki standar umum, financial reporting tidak memiliki standar yang berlaku umum yang meliputi segaala hal mengenai penyediaan dan penyampaian informasi keuangan. Hal tersebut diantaranya yaitu lembaga yang terlibat seperti penyusunan standar, entitas pelapor, dan organisasi profesi dan peraturan yang berlaku seperti PABU,
Berikut adalah beberapa contoh financial statement :
Profil Perusahaan
Laporan Dewan Komisaris
Kinerja Keuangan
Sumber : http://www.pln.co.id/2011/03/laporan-tahunan/
Pengendalian adalah semua metode, prosedur, atau kebijakan yang memastikan adanya perlindungan dari aset organisasi, keandalan dan keakuratan catatannya dan kepatuhan operasional untuk standar manajemen.
Pengendalian dibagi menjadi beberapa bagian oleh beberapa lembaga, Menurut IAI dan COSO, pengendalian dibagi menjadi dua yaitu Pengendalian Umum (General Control) dan Pengendalian Aplikasi (Application Control)
Pengendalian Umum (General Control)
Pengendalian umum adalah kebijakan secara menyeluruh untuk semua bidang organisasi/perusahaan dan mencakup kebijakan praktek yang didirikan oleh manajemen untuk memberikan keyakinan yang memadai untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan dari pengendalian umum ialah menjamin integritas data, program yang ada dalam sistem komputer dan untuk menjamin pengembangan implementasi aplikasi yang tepat.
Menurut IAI, pengendalian umum meliputi unsur-unsur berikut ini :
1. Pengendalian Organisasi dan Manajemen
Meliputi pemisahan fungsi serta kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan fungsi pengendalian.
2. Pengendalian terhadap Pengembangan dan Pemeliharaan Sistem Aplikasi
Untuk memperoleh keyakinan bahwa sistem PDE telah dikembangkan dan dipelihara secara efisien dan ada otoritasnya.
3. Pengendalian terhadap operasi sistem, untuk hal-hal sebagai berikut :
a, Sistem yang digunakan hanya untuk hal-hal yang telah ada otorisasinya.
b. Akses ke operasi komputer hanya diijinkan kepada mereka yang telah memiliki otorisasi.
c. Program yang digunakan juga yang hanya ada otorisasinya.
d. Kesalahan pengolahan dapat dideteksi dan di koreksi.
4. Pengendalian terhadap perangkat lunak sistem
Untuk meyakinkan bahwa perangkat lunak sistem dimiliki dan dikembangankan secara efisisien, serta diotorisasikan.
5. Pengendalian terhadap entri data dan program
Struktur Otorisasi ditetapkan dengan jelas atas transaksi, serta akses ke data dan program dibatasi hanya kepada mereka yang mempunyai otorisasi.
6. Pengendalian terhadap keamanan PDE
Menjaga PDE lain yang berhubungan dengan PDE bersangkutan, misalnya digunakannya salinan cadangan di tempat yang terpisah, prosedur pemulihan ataupun fasilitas pengolahan di luar perusahaan dalam hal terjadi bencana.
Keenam kategori tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tujuh jenis pengendalian umum, yaitu :
a. Pengendalian organisasi dan manajemen
b. Pengendalian software dan hardware
c. Pengendalian akses
d. Pengendalian data dan prosedur
e. Pengendalian pengembangan sistem baru
f. Pengendalian pemeliharaan sistem dan program
g. Pengendalian dokumentasi
Pengendalian Aplikasi (Application Control)
Pengendalian aplikasi adalah pengendalian dalam hal pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dalam suatu proses pengolahan data sehingga akan berhubungan dengan keteliatan dan kelengkapan data yang diproses melalui aplikasi tertentu. (Mulyadi 2001, 183)
Tujuan dari pengendalian aplikasi ini adalah untuk memenuhi persyaratan pengendalian yang harus diterapkan pada aplikasi tertentu sehingga data hasil pemrosesan aplikasi tersebut mampu diyakini keandalannya.
Berikut adalah jenis-jenis pengendalian aplikasi :
1. Input Control
Pengendalian input didesain untuk menjamin agar transaksi valid, lengkap dan akurat,
Input Control dibagi menjadi :
a. Source document control
Menggunakan dokumen sumber yang berurutan serta secara periodik melakukan audit atas dokumen sumber.
b. Data coding control
mengecek integritas data yang digunakan dalam pemrosesan,
c. Validation control
Untuk mendeteksi kesalahan dalam data transaksi sebelum diproses.
d. Input error correction
Ketika error terdeteksi dalam batch, harus segera dikoreksi dan record di submit ulang untuk diproses ulang.
e. Generalized data input system
Teknik yang secara sentralisasi dilakukan untuk mengelola data yang diinput di seluruh sistem pemrosesan dalam organisasi.
2. Pengendalian Proses
Pengendalian ini berperan apakah proses telah dilakukan dilakukan secara benar, sesuai dengan intruksi, diproses hanya satu kali tanpa ada pemrosesan ganda dan diproses secara tepat. Pengendalian proses ini menurut Anies, S. M. Basalamah memeliki beberapa jenis pengendalian, sebagai berikut :
a. Pemliharaan ketepatan data, yang dapat dilakukan dengan cara berikut :
Batch Control total
Run to run Control total
Transcation log
Fallback procedures
Restart Procedure
Recovery Procedures
b. Pengujian terprogram atas batasan dan memadainya laporan, pengendalian yang terdapat pada program tersebut :
Zerobalancing Check
Croosfooting check
Over flow check
c. Pengendalian atas file, file-file yang harus dikendalikan dengan tujuan pencegahan dari pemakaiain orang lain yang tidak memiliki otorisasi.
3. Pengendalian Keluaran
Pengendalian keluaran adalah pengendalian yang meyakini bahwa hasil pemrosesan data telah sah, lengkap, cermat, dan di distribusikan kepada pihak-pihak yang berhak.
Pengendalian keluaran ini menurut Anies. S. M. Basamalah memilik beberapa jenis pengendalian, yaitu:
a. Rekonsiliasi pengeluaran dengan masukan dan pengolahan
b. Penelaahan dan pengujian hasil pengolahan
c. Pendistribusian keluaran
Perbedaan utama antara pengendalian umum dan pengendalian aplikasi adalah bahwa sifat pengendalian umum adalah prosedural, sedangkan pengendalian aplikasi bersifat lebih berorientasi pada data. Oleh sebab itu, bagi auditor mungkin saja menilai pengendalian umumnya secara terpisah dari penilaian terhadap pengendalian aplikasi.
Fraud Triangle Theory merupakan suatu gagasan mengenai
penyebab terjadinya kecurangan yang dikemukakan oleh Donald R. Cressey (1953).
Teoriini menjelaskan tiga factor yang melatarbelakangi terjadinya tindak kecurangan.
Ketiga faktor tersebut yaitu sebagai berikut:
a.Tekanan (pressure)
Adanya tekanan dapat
membuat seseorang melakukan kecurangan. Tekanan dapat berasal dari berbagai
macam aspek, seperti tuntutan ekonomi atau bahkan gaya hidup. Tekanan yang
paling sering menjadi penyebab terjadinya kecurangan ialah tekanan akan
tuntutan atau kebutuhan ekonomi. Kebutuhan ekonomi yang mendesak inilah yang
sering menyebabkan seseorang bertindak curang demi memenuhi kebutuhannya
tersebut.
b.Peluang (opportunity)
Di antara ketiga faktor
penyebab kecurangan menurut fraud triangle theory (pressure, opportunity,
rationalization), peluang merupakan faktor yang paling mendasari terjadinya
kecurangan. Peluang ini dapat muncul kapan saja, sehingga pengawasan dan
kontrol internal perusahaan sangat diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan
adanya peluang seseorang melakukan kecurangam. Seseorang yang tanpa tekanan
sekalipun dapat melakukan kecurangan dengan adanya peluang ini, meskipun pada
awalnya tidak ada niat untuk melakukannya.
c.Rasionalisasi
(rationalization)
Rasionalisasi merupakan
salah satu faktor di mana pelaku kecurangan mencari pembenaran atas
tindakannya. Pelaku fraud ini pada umumnya menganggap bahwa tindakan yang ia
lakukan merupakan tindakan yang benar dan memang haknya, sehingga apa yang ia
lakukan bukanlah suatu tindak kecurangam. Anggapan-anggapan yang menjadi alasan
inilah yang kerap kali sulit diidentifikasi.
Fraud diamond merupakan sebuah
pandangan baru tentang fenomena Fraud yang dikemukakan oleh Wolfe dan Hermanson
(2004). Fraud diamond merupakan suatu bentuk penyempurnaan dari teori Fraud
triangle oleh Cressey (1953). Fraud diamond menambahkan satu elemen kualitatif
yang diyakini memiliki pengaruh signifikan terhadap Fraud yakni Capability.
Elemen Fraud Diamond:
Secara keseluruhan Fraud
Diamond merupakan penyempurnaan dari Fraud Model yang dikemukakan Cressey. Adapun
elemen-elemen dari Fraud diamond theory antara lain :
1.Incentive/Pressure
2.Opportunity
3.Rationalizati on
4.Capability
Capability as the fourth element of
Fraud
Wolfe dan Hermannson berpendapat
bahwa ada pembaharuan Fraud triangle untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi
dan mencegah Fraud yaitu dengan cara
menambahkan elemen keempat yakni Capability.
Wolfe dan Hermanson (2004)
berpendapat bahwa :
Banyak Fraud yang umumnya bernominal
besar tidak mungkin terjadi apabila tidak ada orang tertentu dengan kapabilitas
khusus yang ada dalam perusahaan. Opportunity membuka peluang atau pintu masuk
bagi Fraud dan Pressure dan Rationalization yang mendorong seseorang untuk
melakukan Fraud. Namun menurut Wolfe dan Hermanson (2004), orang yang melakukan
Fraud tersebut harus memiliki kapabilitas untuk menyadari pintu yang terbuka
sebagai peluang emas dan untuk memanfaatkanya bukan hanya sekali namun
berkali-kali.
Wolfe dan Hermanson (2004) berpendapat bahwa :
Dalam mendesain suatu sistem deteksi,
sangat penting untuk mempertimbangkan personal yang ada di perusahaan yang
memiliki kapabilitas untuk melakukan Fraud atau menyebabkan penyelidikan oleh
internal auditor.Teori ini menjelaskan bahwa kunci dalam memitigasi Fraud
adalah dengan fokus pada situasi khusus yang terjadi selain Pressure dan
Rationalization serta kombinasi dari Opportunity dan Capability.
Sumber :
eprints.undip.ac.id/42792/1/SIHOMBING.pdf
y3. Fraud Pentagon Teory
Teori terbarukan yang mengupas lebih
mendalam mengenai faktor-faktor pemicu fraud adalah teori fraud pentagon
(Crowe’s fraud pentagon theory). Teori ini dikemukakan oleh Crowe Howarth pada
2011. Teori fraud pentagon merupakan perluasan dari teori fraud triangle yang
sebelumnya dikemukakan oleh Cressey, dalam teori ini menambahkan dua elemen
fraud lainnya yaitu kompetensi (competence) dan arogansi (arrogance).
Crowe’s Fraud Pentagon
1.Kompetensi
(competence)
Kompetensi (competence) yang dipaparkan
dalam teori fraud pentagon memiliki makna yang
serupa dengan kapabilitas/kemampuan (capability) yang
sebelumnya dijelaskan dalam teori fraud diamond oleh Wolfe dan Hermanson pada
2014. Kompetensi/kapabilitas merupakan kemampuan karyawan untuk mengabaikan
kontrol internal, mengembangkan strategi penyembunyian, dan mengontrol situasi
sosial untuk keuntungan pribadinya (Crowe, 2011).
2.Arogansi
(arrogance)
Menurut Crowe, arogansi adalah sikap
superioritas atas hak yang dimiliki dan merasa bahwa kontrol internal atau
kebijakan perusahaan tidak berlaku untuk dirinya
Sumber: eprints.undip.ac.id/49099/1/12_TESSA.pdf
4.Teori Gone
(Gone Theory)
Teori Gone di temukan oleh Jack Bologne yang memiliki makna,
yaitu:
G = Greedy
O = Opportunity
N = Needs
E = Expose
Greedy, terkait keserakahan
dan kerakusan para pelaku korupsi. Koruptor adalah orang yang tidak puas akan
keadaan dirinya.
Opportuniy, sistem
yang memberi peluang untuk melakukan korupsi.
Needs, sikap mental yang
tidak pernah merasa cukup, selalu sarat dengan kebutuhan yang tidak pernah
usai.
Exposes, hukuman
yang dijatuhkan kepada para pelaku korupsi yang tidak memberi efek jera pelaku
maupun orang lain.
Teori keagenan menjelaskan adanya hubungan kerjasama antara pihak pemegang
saham sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Hubungan agensi ada ketika
salah satu pihak (prinsipal) yang dalam hal ini adalah pemilik perusahaan atau
pemegang saham menyewa orang lain (agen) yaitu manajemen perusahaan untuk
melaksanakan suatu jasa dan para prinsipal mendelegasikan wewenang pada agennya
untuk membuat keputusan (dalam Anthony dan Govinderajan, 2005). Prinsipal
selalu menginginkan returntinggi atas investasi yang telah dikeluarkan untuk perusahaan, sedangkan agen
memiliki kepentingan tersendiri yaitu untuk mendapatkan kompensasi yang lebih
besar atas hasil kinerjanya. Hal ini menunjukan adanya benturan kepentingan
antara prinsipal dan agen yaitu pemilik modal dan para pengelola modal atau
manajemen perusahaan. Adanya benturan kepentingan antar agen dan prinsipal ini
sering disebut pula dengan conflict of interest.
Fraud Tree yang dibuat oleh ACFE
adalah suatu sistem klasifikasi mengenai kecurangan-kecurangan yang dilakukan
oleh pekerja di perusahaan. Fraud Tree meliputi tiga bagian utama yaitu
korupsi, penyimpangan terhadap aset, dan
kecurangan pada laporan keuangan.
1.Korupsi
Korupsi adalah kegiatan menyimpang
yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok dari tugasnya dan menguntungkan
suatu pihak tertentu yang melawan hukum. Pada gambar fraud tree, korupsi
terdiri dari:
a.Konflik
Kepentingan
Konflik kepentingan adalah suatu
keadaan ketika seseorang memiliki kepentingan pribadi yang bersinggungan dengan
kepentingan perusahaan dan nantinya merugikan perusahaan. Konflik kepentingan
terbagi menjadi dua yaitu skema pembelian dan skema penjualan. Skema pembelian
ialah skala yang melibatkan overbilling dari sebuah perusahaan untuk barang
atau jasa oleh vendor, dimana seseorang karyawan memiliki kepemilikan dan
kepentingan keuangan yang dirahasiakan. Skema penjualan ialah skema yang
melibatkan underselling barang perusahaan dengan karyawan untuk sebuah
perusahaan, dimana karyawan tersebut mempunyai kepentingan tersembunyi.
b.Penyuapan
Penyuapan adalah suatu tindakan
dengan memberikan hadiah, uang dan semacamnya untuk mempengaruhi pengambilan
keputusan seseorang/kelompok.
Penyuapan meliputi kickbacks invoice
yaitu pembayaran pada perusahaan fiktif dan bid rigging yaitu kerja sama antara
peserta tender pada perusahaan untuk memenangkan peserta tender tertentu.
c.Gratifikasi
ilegal/Persenan Ilegal
Pemberian hadiah yang merupakan
bentuk tidak langsung dari penyuapan tetapi biasanya tidak ada maksud untuk
mempengaruhi keputusan.
d.Pemerasan
Ekonomi
Pemerasan ekonomi biasanya dilakukan
karyawan yang menuntut pembayaran kepada vendor untuk mendukung vendor.
2.Penyalahgunaan Aset
Penyalahugunaan
terhadap aktiva tetap atau aset yang digunakan untuk kepentingan pribadi.
Penyalahgunaan
aset diklasifikasi menjadi 2 jenis, yaitu kas dan persediaan aset non-kas lain.
a.Kas
terdiri dari tiga bagian :
· - Kejahatan Kas ditangan dimana pelaku menyalahgunakan kas
ditangan di dalam suatu organisasi.
· - Kejahatan pada penerimaan kas
Kejahatan ini dikategorikan menjadi
dua yaitu skimming adalah pencurian kas yang belum di catat di sistem akuntansi
dan cash larceny adalah pencurian kas yang telah muncul pada pembukuan
perusahaan.
Skimming dibagi menjadi tiga.
Pertama, skimming sales merupakan penggelapan penjualan yang mudah karena tidak
meninggalkan catatan penjualan dan tidak menimbulkan kecurigaan. Skimming sales
unrecorded biasanya dilakukan oleh karyawan yang menjual barang dan jasa kepada
pelanggan dengan tidak mencatat penjualan tersebut. Sedangkan skimming sales
understated biasanya dilakukan dengan mencatat penjualan tetapi dengan nominal
yang lebih kecil daripada aslinya yang dilakukan oleh pelaku. Kedua, skimming
receivables atau penggelapan piutang. Apabila penggelapan dilakukan, kekosongan
pembayaran muncul didalam pembukuan sebagai akun tunggakan. Penggelapan piutang
dapat dilakukan dengan cara lapping yaitu mengkredit rekening satu pelanggan
dengan pembayaran yang diterima dari pelanggan lain. Dapat juga dilakukan
dengan cara force balancing yaitu apabila posting ke akun pelanggan tanpa
menyetorkan cek dapat menimbulkan ketidakseimbangan. Maka, rekening kas akan
berlebih sehingga jumlah yang digelapkan dipaksa untuk menyeimbangkan akun.
Cara yang terakhir adalah dengan unconcealed yaitu karyawan mencuri atau
mengubah pernyataan akun atau menghasilkan laporan palsu. Ketiga, refund and
other merupakan pengembalian dana dari pihak ketiga tidak diserahkan kepada
perusahaan.
· - Kecurangan dalam pembayaran kas
Kecurangan ini dilakukan oleh
karyawan dengan cara membuat anggaran untuk tujuan yang kurang baik. Kecurangan
ini dikategorikan menjadi 3, yaitu:
-
Billing schemes merupakan skema yang dilakukan oleh pelaku dengan cara
mengeluarkan pembayaran dengan mengirimkan faktur barang dan jasa fiktif.
Billing schemes dikategorikan menjadi 3, yaitu shell company merupakan badan
palsu yang didirikan oleh karyawan untuk tagihan barang dan jasa yang tidak
diterima. Selanjutnya ada non-accomplice vendor merupakan skema dimana pelaku
memanipulasi rekening vendor yang sah dan menyebabkan pembayaran faktur dua
kali lipat. Terakhir yaitu personal purchases, merupakan pembelian pribadi
dengan menggunakan dana perusahaan.
-Payroll
schemes adalah skema dimana para pelaku membuat dokumen palsu yang menyebabkan
perusahaan tersebut tidak menyadarinya membuat kecurangan pembayaran. Payroll
schemes meliputi tiga hal, yaitu ghost employee merupakan seseorang yang
sebenarnya tidak bekerja untuk perusahaan tersebut melalui pemalsuan atau
penipuan catatan gaji. Selanjutnya yaitu falsified wages merupakan pemalsuan
dana dari gaji dengan kelebihan pembayaran upah oleh karyawan. Yang terakhir
ialah commision schemese. Hal ini bisa dilakukan oleh karyawan dengan cara
mencurangi komisinya yang dapat menghasilkan pendapatannya, dengan cara
memalsukan jumlah penjuaran yang dilakukan dan meningkatkan lajunya komisi.
-Skema
Penggantian Biaya adalah sebuah skema dimana karyawan membuat klam penggantian
fiktif atau meningkatkan biaya bisnis. Skema Penggantian Biaya meliputi 4 hal
yaitu mischaraterized expense reimbursement merupakan skema yang dilakukan oleh
karyawan yang menggunakan uang untuk penggantian biaya pribadi (ex: biaya
penginapan) dengan mengklaim itu merupakan biaya bisnis tersebut. Selanjutnya
ada overstated expense adalah skema yang dilakukan oleh karyawan dengan cara
melebihkan biaya pengeluaran bisnis yang sebenarnya. Hal yang ketiga yaitu
fictitious expense yang merupakan skema yang dilakukan oleh karyawan dengan
melakukan penggantian biaya seluruhnya secara fiktif dan karyawan hanya
menciptakan beban dan meminta beban tersebut digani perusahaan. Yang terakhir
ialah multiple reimbursement yaitu pengajuan beberapa jenis dukungan oleh
karyawan untuk penggantian biaya yang sama.
-Check
tempering adalah sebuah skema dimana seseorang mencuri dana pekerja lain dengan
menghalangi atau mengubah cek atau pembayaran elektronik salah satu akun bank
di suatu organisasi. Check tampering meliputi empat hal. Pertama, forged maker
schemes merupakan skema yang melibatkan penempaan tanda tangan resmi di cek
perusahaan. Kedua, forged endorsement scheme merupakan skema yang terdiri dari
penempaan dukungan tanda tangan dari penerima yang dimaksud pada cek
perusahaan. Ketiga, altered payee merupakan skema yang melibatkan pengubahan
pembayaran dari cek ke pelaku atau kaki tangannya. Keempat, authorized maker
scheme terjadi apabila karyawan dengan otoritas tanda tangan membuat cek palsu
untuk kepentingan mereka sendiri.
-
register disbursement adalah sebuah skema dimana karyawan membuat catatan palsu
pada cash register untuk menyembunyikan penipuan uang tunai. Registes
disbursement terdiri dari 2 hal, yaitu false refund merupakan penipuan terkait
dengan pengembalian barang. Biasaanya pelaku melebihkan-lebihkan dana terkait
nilai pengembalian barang. Selanjutnya, false void ialah pelaku menyimpan
salinan tanda terima pelanggan pada saat penjualan dan menggunakannya untuk
membuat kekosongan fiktif, seperti pelanggan mengembalikan barang dagangan.
b.Persediaan
dan aset non kas lain, kecurangan disini diartikan dengan pelaku yang
menargetkan barang inventaris, peralatan, perlengkapan, aset selain kas untuk
dicuri dengan berbagai cara. Skema ini mencakup penyalahgunaan aset selain uang
tunai. Persediaan dan aset non kas, terdiri dari :
·Misuse/Penyalahgunaan merupakan aset yang disalahgunakan
tetapi tidak dicuri. Biasanya aset ini berupa peralatan, kendaraan, komputer
perusahaan, dll.
·Larceny/Pencurian merupakan pencuriaan persediaan aset
perusahaan. Skema ini menjelaskan dimana karyawan hanya mengambil persediaan
pada lokasi perusahaan, tanpa menyembunyikannya dalam bentuk buku ataupun
catatan. Pencurian ini terdiri dari 4 hal sebagai berikut:
-Rekuisisi
aset dan transfer merupakan permintaan resmi aset dan dokumen lainnya yang
memungkinkan aset non-tunai untuk dipindahkan dari satu lokasi di sebuah
perusahaan yang lain yang dapat digunakan untuk memfasilitasi pencurian
aset-aset tersebut.
-
penjualan palsu dan pengiriman biasanya terjadi pada karyawan yang korupsi yang
memanfaat orang lain untuk mencuri persediaan. Orang lain itu berpura-pura
untuk membeli barang dagangan, tetapi karyawan tersebut tidak menghubungi bagian
penjualan.
-pembelian
dan penerimaan merupakan skema pembelian yang diklasifikan dengan tagihan palsu
dan yang diklasifikasikan sebagia penyelewengan non-cash dengan menyembunyikan
penyusutan persediaan.
-skema
penyembunyian pencurian terjadi ketika karyawan mencuri properti dari
perusahaan tanpa menyembunyikannya ke dalam buku dan catatan.
3.Kecurangan Laporan
Keuangan merupakan skema dimana karyawan secara sengaja mengabaikan salah saji
atau kelalaian informasi material dalam laporan keuangan organisasi.
Kecurangan
laporang keuangan dibagi menjadi dua:
a. Net
worth / net income overstatements adalah jumlah modal sendiri yang dimilii
perusahaan yang mencakup modal, saham, cadangan, surplus dan lain-lain. Net
worth bisa diartikan sebagai selisih antara jumlah hutang perusahaan dikurangi
dengan total assets. Net worth meliputi :
-
Timming Difference
Merupakan suatu konsep akuntansi yang
terjadi karena masalah transisi. Perbedaan waktu adalah isilah yang sangat
digunakan dalam pelaporan atau perpajakan tujuan keuangan. Metode perhitungan
penyusutan yang berbeda di kedua akuntansi keuangan dan perpajakan. Sementara
perusahaan menggunakan metode garis lurus untuk depresiasi, dan menggunakan
metode penyusutan dipercepat. Hal ini akan menyebabkan perbedaan perbedaan
waktu dlam kewajiban pajak dari perusahaan meskipun penyusutan dihitung dengan
kedua metode.
-
Fictitious Revenues
Mengembang keuntungan perusahaan
dengan mencatat pendapatan palsu untuk barang atau jasa yang tidak pernah di
sampaikan. Skema ini dibedakan dari waktu skema perbedaan bahwa dengan
pendekata fiktif, pendapatan tidak diakui dalam setiap periode.
-
Concealed Liabilities and Expense
Yaitu beban dan kewajiban
tersembunyi. Kewajiban tersembunyi dapat mencakup jaminan melekat penjualan
tidak dilaporkan atau kelalaian kewajiban sederhana. Beban dapat disembunyikan
oleh kapitalisasi yang menyebar biaya keluar selama beberapa tahun dengan
mencatat aset dan depresiasi tahunan daripada benar mengakui seluruh biaya
dalam satu tahun.
-
Improper Asset Valuations
Merupakan suatu bentuk kecurangan
laporan keuangan dengan melakukan penilaian yang tidak wajar atau tidak sesuai
prinsip akuntansi berlaku umum atas aset perusahaan dengan tujuan untuk
meningkatkan pendapatan dan menurunkan biaya
-
Improprer Disclosures
Merupakan suatu bentuk kecurangan
perusahaan yang tidak melakukan pengungkapan atas laporan keuangan secara cukup
dengan maksud untuk menyembunyikan kecurangan – kecurangan yang terjadi di
perusahaan.
Waktu perbedaan adalah konsep
akuntansi yang terjadi karena masalah transisi. Perbedaan waktu adalah istilah
yang sangat digunakan dalam pelaporan atau perpajakan tujuan keuangan. Metode
perhitungan penyusutan yang berbeda di kedua akuntansi keuangan dan perpajakan.
Sementara perusahaan adalah dengan menggunakan metode garis lurus untuk
depresiasi, otoritas pajak akan menggunakan metode penyusutan dipercepat. Hal
ini akan menyebabkan perbedaan waktu dalam kewajiban pajak dari perusahaan
meskipun penyusutan dihitung dengan kedua metode adalah sama dan jangka waktu
untuk depresiasi juga sama.
penghasilan yang timbul dari
aktivitas perusahaan yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda seperti
penjualan, penjualan jasa (fees), bunga, dividen, royalti, dan sewa namun
jumlah total dari pendapatan berada pada nilai di bawah rata-rata atau batas
yang ditentukan.
Kewajiban adalah pengorbanan ekonomis
yang harus dilakukan oleh perusahaan pada masa yang akan datang, namun
perusahaan mengorbankan biaya yang lebih besar dari biaya atau target yang
telah ditentukan.
Beban adalah sejumlah pengorbanan
yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam rangka memperoleh laba, namun perusahaan
melakukan pengorbanan pada beban-beban yang ditargetkan lebih besar dari yang
telah ditargetkan.
Merupakan suatu bentuk kecurangan
laporan keuangan dengan melakukan penilaian yang tidak wajar atau tidak sesuai
prinsip akuntansi berlaku umum atas aset perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan
pendapatan dan menurunkan biaya
-
Improprer Disclosures
Merupakan suatu bentuk kecurangan
perusahaan yang tidak melakukan pengungkapan atas laporan keuangan secara cukup
dengan maksud untuk menyembunyikan kecurangan – kecurangan yang terjadi di perusahaan.
COSO(The Committee of
Sponsoring Organizations)
Definisi
internal control menurut COSO adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan
direksi manajen dan staff, untuk membuat reasonable assuranc mengenai :
-
efektifitas dan efisiensinoperasional
-
realibilitas pelaporan keuangan
-
kepatuhan atas hukum dan peraturan yang berlaku
Komponen
Struktur Pengendalian Intern
Komponen
pengendalian intern menurut COSO oleh Wing Wahyu Winarno dalam buku Sisitem
Informasi Akuntansi ada lima, yaitu :
1.Control Environment atau
Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian merupakan
sarana dan prasarana yang ada di dalam organisasi atau perusahaan untuk
menjalankan struktur pengendalian intern yang baik. Berapa komponen yang
mempengaruhi lingkungan pengendalian intern adalah :
-
komitmen manajemen terhadap integritas dan nilai – nilai etika.
-
filosofi yang dianut oleh manajemen dan gaya operasional yang dipakai oleh
manajemen
-
struktur organisasi
2.Risk Assesment atau
Pemahaman Risiko
Manajemen perusahaan harus dapat
mengidentifikasi berbagai risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Dengan memahami
risiko manajemen dapat mengambil tindakan pencegahan, sehingga perusahaan dapat
menghindari kerugian yang besar.
3.Control Activities atau
Kegiatan Pengendalian Internal
Kegiatan pengendalian intern terdiri
dari :
-
Pemberian Otoritasi atas Transaksi dan Kegiatan
Otorasi adalah pemberian sebagaian
kekuasaan manajemen kepada karyawan untuk melakukan kegiatan dan mengambilan
keputusan. Hal ini perlu dilakukan karena manajemen tidak akan mampu membuat
semua keputusan dan menjalankan semua kegiatan di dalam perusahaan.
-
Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab
Tidak ada satu karyawan atau satu
bagian pun yang dapat menyelesaikan suatu transaksi tanpa campur tangan pihak
lain. Wewenang dan tanggung jawab di bagi atas tiga fungsi, yaitu Fungsi
Penyimpanan, Fungsi Pencatatan, dan Fungsi Pemberian Otorisasi
-
Perancangan dan Penggunaan Dokumen dan Catatan yang Baik
Dokumen akan disimpan dalam waktu
yang lama. Oleh karenanya, bahan yang digunakan untuk membuat dokumen juga
harus merupakan bahan yang tahan lama dan berkualitas baik
-
Perlindungan yang Cukup terhadap Kekayaan dan Catatan Perusahaan
Perlindungan yang dapat dilakukan
oleh perusahaan, agar tidak terjadi pencurian dan penggunanaan tanpa otorisasi.
-
Pemeriksaan Independent terhadap Kinerja Perusahaan
Pemeriksaan kinerja ini dapat
dilakukan dengan melakukan rekonsiliasi antara dua catatan yang terpisah atau
berbeda mengenai suatu rekening, dan membandingkan antara jumlah unit
persediaan di gudang dengan jumlah menurut catatan persediaan, menyelenggarakan
double entry bookkeeping, yaitu metode pencatatan yang selalu melibatkan
setidak-tidaknya dua rekening untuk mencatat satu transaksi, menjumlah berbagai
hitungan dengan cara batch totals, yaitu penjumlahan dari atas ke bawah.
Beberapa keterbatasan dari pengendalian intern
sehingga pengendalian intern tidak dapat berfungsi antara lain :
-
Kesalahan
Muncul ketika karyawan melakukan
pertimbangan yang salah atau perhatiaannya selama bekerja terpisah
-
Kolusi
Terjadi ketika dua atau lebih
karyawan berkonspirasi untuk melakukan pencurian (korupsi) di tempat mereka
bekerja.
-
Penyimpangan Manajemen
Muncul karena manajaer suatu
organisasi yang memiliki lebih banyak otoritas dibandingkan karyawan biasa,
proses pengendalian efektif pada tingkat manajemen bawah dan tidak efektif pada
tingkat atas.
-
Manfaat dan Biaya
Konsep jaminan yang meyakinkan atau
masuk akal mengandung arti bahwa biaya pengendalian intern tidak melebihi
manfaat yang dihasilkam.
4.Information and
Communication atau Informasi dan Komunikasi
Perancang sistem informasi perusahaan
dan manajemen puncak harus mengetahui bagaimana transaksi diawali, bagaimana data
dicatat ke dalam formulir yang siap diinput ke sistem komputer, bagaimana file
data di baca di organisasi dan diperbarui isinya, bagaimana data diproses agar
menjadi informasi dan informasi di proses lagi menjadi informasi yang lebih
berguna bagi pembuat keputusan, dan bagaimana transaksi berhasil.
5.Monitoring atau Pemantauan
Merupakan kegiatan untuk mengikuti
jalannya sistemn informasi akuntansi, sehingga apabila ada sesuatu berjalan
tidak seperti yang diharapkan, dapat diambil tindakan segera. Berbagai bentuk
pemantauan di dalam perusahaan dapat dilaksanakan dengan proses antara lain,
supevisi yang efektif, akuntansi pertanggung jawaban, dan audit internal.